Sabtu, 02 April 2016

psikologi



Soal
Apa yang menjadi “ titik berat “ jiwa bagi ibu hamil?
Jawaban
Kesehatan Jiwa Bagi Ibu Hamil Hingga Persalinan
Kesehatan jiwa (psikiatrik) menitik beratkan pada segi perkembangan “Konsep Diri” yang sifatnya positif. Hal itu sangat di pandang penting karena dapat meningkatkan pola hubungan antara pribadi yang lebih harmonis dan lebih produktif.
Bagi ibu hamil “ Konsep Diri “ yang positif dapat memacu semangat untuk menjaga kesehatan dirinya dan pertumbuhan janin dalam kandungannya. Dalam demikian proses persalinan yang akan di alami tidak menemui kesulitan secara psikologis. Tentu saja ini pun akan sangat besar pengaruhnya dalam hal kekuatan fisiknya saat melahirkan.
“konsep Diri” merupakan suatu pikiran, keyakinan, dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui siapa dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain ( Stuart & Sundeen,1998). Cara individu melihat pribadinya secara utuh, menyangkut secara fisik, emosi, intelektual, social dan spiritual. Termasuk di dalamnya persepsi individu tentang sifat dan potensi yang di milikinya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang bersangkutan dengan pengalaman dan objek tertentu, serta tujuan, harapan dan keinginan individu itu sendiri. Dengan demikian Konsep Diri merupakan suatu gagasan kompleks yang mempengaruhi:
*   Cara seseorang dalam berfikir, berbicara dan bertindak.
*   Cara seseorang dalam memandang  dan memperlakukan orang lain
*   Pilihan yang harus di ambil seseorang
*   Kemampuan untuk memberi dan menerima cinta
*   Kemampuan untuk bertindak dan mengubah sesuatu
Pembentukan Konsep Diri
Konsep diri tidak muncul dengan sendirinya, melainkan terbentuk sebagai hasil dari interaksi kita bersama orang lain. Ada delapan tahap perkembangan yang harus di jalani individu di sepanjang hidupnya. Keberhasilan seseorang dalam menjalani tugas perkembangan tersebut akan sangat menentukan perkembangan konsep dirinya. Secara umum ada tiga tahap pada perkembangan konsep diri seseorang, yaitu:
*   Bayi belajar bahwa diri mereka secara fisik, terpisah dan berbeda dari lingkungan sekitar
*   Anak menginternalisasikan sikap-sikap yang di tunjukkan orang lain ke dalam dirinya.
*   Anak dan dewasa menginternalisasikan standar-standar yang ada dalam masyarakat


Ciri Orang Yang Sehat Jiwanya:
Adanya integrasi atau kesatuan yang utuh antara berbagai aspek dalam dirinya sendiri. Adanya hubungan yang jelas antara Persepsi dan emosi. Kesehatan mental secara continue memiliki peran penting dalam mengidentifikasi pasien-pasien yang bersiko saat persalinan. Kesehatan mental bertanggung jawab dalam seluruh renyang kehidupan pasien, dari mulai fase anak sampai fase lansia.
Peran Bidan Dalam Upaya Kesehatan Jiwa
Menurut WEISS (19470 yang mengupas tentang keperawatan, Mengatakan bahwa peran Perawat adalah sebagai Attitude Therapy. Dan Peran Bidan adalah mengobservasi perubahan-perubahan yang terjadi pada ibu hamil, bersikap respek/empaty terhadap pasien., memahami kondisi psikologi pasien, sebagai konselor bagi ibu hamil, baik yang bermasalah maupun yang tidak bermasalah, sebagai penyemangat ayau motivator ibu hamil saat menjalani proses persalinan, sekaligus berperan sebagai kawan yang memberi kenyamanan.
Tokoh Psikoanalisa, SIGMUND FREUD mengemukakan bahwa: trauma adalah suatu ingatan yang direpresi. Karena direpresi itulah maka trauma seringkali muncul dan yang berlangsung secara tidak sadar dalam periode yang cukup lama. Guncangan psikologi yang disebabkan oleh ingatan mengerikan masa lalu, berpotensi untuk membentuk ingatan traumatis. Hal ini berbahaya bagi seseorang wanita yang sedang dalam kondisi hamil. Sarankan pada ibu hamil untuk tidak mendengarkan cerita-cerita mengerikan dari wanita lain yang pernah mengalami kesulitan saat melahirkan. Cerita tentang kelahiran bermasalah akan membantu pasien ngeri dan takut( setidak-tidaknya cemas). Karena tidak menutup kemungkinan terjadi ‘transferen’. Transferen adalah memindah pengalaman traumatis dari orang yang sedang bercerita kepada orang lain yang sedang mendengarkan cerita tersebut.


`Kesimpulan :
Yang menjadi titik berat jiwa ibu hamil adalah ‘Konsep Diri yang positif’ .karena dengan ‘Konsep Diri yang positif’ seseorang ibu akan mampu dapat meningkatkan pola hubungan antara pribadi yang lebih harmonis dan lebih produktif. Hal tersebut akan mampu membantu ibu dalam proses kehamilannya. Selain itu Konsep Diri yang positif juga akan membantu seorang ibu hamil dalam menjaga kesehatan dirinya dan pertumbuhan janin dalam kandungannya. Dalam demikian proses persalinan yang akan di alami tidak menemui kesulitan secara psikologis. Tentu saja ini pun akan sangat besar pengaruhnya dalam hal kekuatan fisiknya saat melahirkan.
“konsep Diri” merupakan suatu pikiran, keyakinan, dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui siapa dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain.
Selain itu Bidan juga mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam membentuk Konsep diri yang positif, sebab konsep tersebut tidak dapat tumbuh dengan sendirinya.
Tugas seorang Bidan dalam membentuk Konsep Diri yang positif adalah sebagai berikut:
*      Membantu ibu hamil untuk selalu berfikir positif “bahwa kehamilan adalah proses yang wajar dalam hidup yang harus di jalani”

askariasis



ASKARIASIS
Askariasis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing gelang Ascaris lumbricoides, yang merupakan penyakit kedua terbesar yang disebabkan oleh makhluk parasit.
-        Etimologi →
Ascaris lumbricoides merupakan cacing bulat besar yang biasanya bersarang dalam usus halus. Adanya cacing didalam usus penderita akan mengadakan gangguan keseimbangan fisiologi yang normal dalam usus, mengadakan iritasi setempat sehingga mengganggu gerakan peristaltik dan
penyerapan makanan. Cacing ini merupakan parasit yang kosmopolit yaitu tersebar diseluruh dunia, lebih banyak di temukan di daerah beriklim panas dan lembab. Di beberapa daerah tropik
derajat infeksi dapat mencapai 100% dari penduduk. Pada umumnya lebih banyak ditemukan pada anak-anak berusia 5 – 10 tahun sebagai host (penjamu) yang juga menunjukkan beban cacing yang lebih tinggi (Haryanti, E, 1993).
Cacing dapat mempertahankan posisinya didalam usus halus karena aktivitas otot-otot ini. Jika otot-otot somatik di lumpuhkan dengan obat-obat antihelmentik, cacing akan dikeluarkan dengan pergerakan peristaltik normal. Tantular, K (1980) yang dikutip oleh Moersintowarti. (1992) mengemukakan bahwa 20 ekor cacing Ascaris lumbricoides dewasa didalam usus manusia mampu mengkonsumsi hidrat arang sebanyak 2,8 gram dan 0,7 gram protein setiap hari. Dari hal tersebut dapat diperkirakan besarnya kerugian yang disebabkan oleh infestasi cacing dalam jumlah yang cukup banyak sehingga menimbulkan keadaan kurang gizi (malnutrisi).
-        Cara infeksi →
Telur ascariasis yang lebih dibuahi termakan bersamaan makanan yang telah terkontaminasi → masuk dalam  duedenum → kemudian larva keluar menembus dinding duodenum → masuk ke dalam pembuluh kapiler darah dan bergerak kejantung → alveolus paru – paru → bronkus → faring → kemudian tertelan lagi masuk dalam salauran pencernaan → menetap dalam usus (tempat cacing menjadi dewasa).
Siklus askariasis 60 – 75 hari.
Usus manusia -> Cacing -> Telur Cacing -> Keluar bersama feses -> Tersebar -> Menempel pada makanan -> Termakan -> Menetas -> Larva -> Menembus Usus -> Aliran Darah -> Jantung -> Paru-Paru -> Kerongkongan -> Tertelan -> Usus Manusia -> Cacing Dewasa
-        Gejala klinis →
Bergantung pada banyaknya cacing dalam tubuh.
Gejala klinisnya            : nyeri perut (berupa kolik didaerah pusat atau epigastrium)
perut buncit
rasa mual dan kadang – kadang muntah
Anoreksia
Susah tidur dan diare
Ascaris dapat menetap dalam duktus koppdokus dan bial menyumbat saluran tersebut dapat terjadi ikterus obstruktif. Cacing dapat juga menyebabkan iritasi dan infeksi sekunder hati, jika terdapat dalam jumlah banyak dalam kolon maka dapat merangsang dan menyebabkan diare yang berat sehingga dapat timbul apendisitis akut.
-        Spoilative action
Anak yang menderita asakariasis umumnya dalam keadaan distrafi. Askariasis hanya mengambil sedikit karbohidrat sedangkan protein dan lemak tidak.
Kesimpulan → Bahwa distrovi pada penderita askariasis disebabkan oleh diare dan anoreksia.
-        Alergi
Disebabkan oleh larva yang masuk dalam darah sehingga timbul alergi. Pada siklus berikutnya timbul manifestasi alergi berupa         : asam bronkiale, Urtikaria, Hipereosinofilia, dan Sindrom loffler
-        Traumatic action
Ascaris dapat menyebabkan abses di dinding usus. Perforasi dan kemudian peritonitis. Yang lebih sering cacing – cacing askaris berkumpul dalam usus menyebabkan obstruksi usus.
-        Erratic action
Ascaris dapat berada dalam lambung sehingga menimbulkan gejala mual, muntah, nyeri perut terutama di daerah epigastrium, kolik. Gejala hilang bila cacing dapat keluar bersama muntah.
Þ    Komplikasi lain
Dalam siklusnya larva dapat masuk keotak sehingga timbul abses-abses kecil, ke ginjal menyebabkan nefritis, ke hati menyebabkan abses-abses kecil dan hepatitis.
2).    Diagonosis
Ditegaskan dengan
a.       Menemukan telur ascaris lumbriruides dalam tinja
b.      Cacing ascaris keluar bersama muntah atau tinja penderita
3).    Pengobatan
Ø  Obat pilihan          :
Piperazin sitrat (Antepar) 150 mg / kg bb / hari
Ø  Dosis  tunggal dengan dosis maksimum 3 g / hari
Ø  Heksil resorsinol dengan dosis 100 mg / tahun (umur)
Ø  Oleum kenopodii dengan dosis 1 tetes / tahun (umur)
Santonin         :
Tidak membinasakan ascaris tetapi hanya melemahkan. Biasanya dicampur dengan kolomel (HgCl ; laksans ringan) dalam jumlah yang sama diberikan selama 3 hari berturut-turut
0 – 1 tahun               : 3 x 5 mg
Dosis    →     1 -3 tahun                 : 3 x 10 mg
                     3 – 5 tahun               : 3 x 15 mg
                     Lebih dari 5 tahun    : 3 x 20 mg
                     Dewasa                    : 3 x 25 mg
Pirantel pamoat (combantrin)
            Dengan dosis 10 mg / kg bb / hari dosis tunggal
Papin yaitu fermen dari batang pepaya yang kejanya menghancurkan cacing
Preparatnya : Fellardun
Pragnosis                  : baik, terutama jika tidak tedapat komplikasi dan cepat diberikan pengobatan.

TRIKURIASIS (TRIKOSEFALIASIS)
·         Etiologi → trithuris trithiura
·         Epidemiologi →
Terdapat di seluruh dunia. Frekuensi infeksi cacing ini di Jakarta dan sekitarnya cukup tinggi.
·         Patogenesis →
Trithuris trichiura biasanya dianggap cacing non patogen dan komensal terdapat dalam usus. Jika jumlahnya banyak dan daya tahan penderita kurang baik, maka tidak jarang menyebabkan kelainan tertentu. Bagian posterior cacing melekat pada mukosa usus dan akan mengakibatkan pendarahan kronis serta kerusakan mukosa usus.
·         Cara infeksi →
Menelan telur yang telah dibuahi kemudian larvanya melekat pada vilus usus halus sampai menjadi dewasa kemudian ke sekum dan kolon bagian prosimal.
·         Gejala klinis →
Infeksi ringan cacing ini tidak menimbulkan gejala klinis yang jelas. Pada infeksi yang berat terdapat keluhan nyeri di daerah abdomen atau epigastrium yang dapat di sertai muntah-muntah, perut kembung dan ileus. Diare dengan tinja yang bergaris-garis merah darah, berat badan yang berkurang.
Dapatterjadi pula prolapsus tektum dengan cacing yang melekat pada selaput lendir usus.
Anemia yang disebabkan oleh pendarahan kronis. Penderita akan kehilangan darah kira-kira 0,25 ml setiap telur trithusis trithiura yang terdapat dalam 1 gram tinja.
Eossnofilia terdapat pada infeksi yang baru, sedangkan pada infeksi yang sudah lama kadang-kadang eosinofil darah-darah dalam batas normal.
·         Diagnosis
Dapat dibuat dengan menemukan telur dan atau trithuris trithiurs tinja, baik pada sediaan langsung maupun pada konsentrasi menurut stoil.
·         Pengobatan
a.       Ditiazanen iodida ( delvex, telmid, delumbrin, netorya)
Denga dosis 10 mg / kg bb / hari
Pada hari pertama selajutnya 20 mg / kg bb / hati selama 3-15 hari. Juga diberi drtazanin enema.
b.      Triklormenolpiperazani
c.       Stilbzaum lodida (monopar)
d.      Obat piliah :
Tiobendasol (mintesol) dengan dosis 25-30 mg / kgbb / hari selama 7-30 hari

atonia uteri



ATONIA UTERI


A.    Definisi
Atonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus atau kontraksi rahim yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat implantasi placenta setelah bayi dan placenta lahir, hingga 4 jam setelah persalinan. Atonia uteri dapat menyebabkan perdarahan hebat dan dapat mengarah pada terjadinya syok hipovolemik. dengan darah berwarna merah tua karena berasal dari vena.

B.     Etiologi
Faktor- faktor yang dapat menyebabkan atonia uteri adalah:
1.      Regangan rahim berlebihan karena kehamilan gemeli, polihidramnion, atau anak terlalu besar.
2.      Kelelahan karena persalinan lama atau persalinan kasep.
3.      Kehamilan grandemultipara.
4.      Ibu dengan keadaan umum yang jelek, atau menderita penyakit menahun.
5.      Mioma uteri yang mengganggu kontraksi rahim.
6.      Infeksi intra uterin (korioamnionitis)
7.      Ada riwayat pernah atonia uteri sebelumnya.
8.      Partus lama yang mengakibatkan inersi uteri.
9.      Anaastesi umum terutama halotan atau siklopropana.
10.  Kesalahan penatalaksanaan kala III.
11.  Pemisahan placenta incomplete.
12.  Persalinan cepat.
13.  Placenta previa.
14.  Abrupsio placenta.
15.  Kandung kemih penuh.
16.  Faktor lain yang belum diketahui.

 Adapun faktor- faktor pencetus yang bisa meningkatkan resiko perdarahan     post partum adalah sebagai berikut:
a.       Riwayat perdarahan post partum atau retensi placenta.
b.      Paritas tinggi yang menyebabkan terbentuknya eskar pada uterus.
c.       Adanya fibroid.
d.      Anemia maternal.
e.       Ketoasidosis.

C.    Tanda Gejala
1.      Perdarahan pervaginam.
2.      Konsistensi rahim lunak.
3.      Fundus uteri naik ( kalau pengaliran darah keluar terhalang oleh bekuan darah atau selaput janin).
4.      Tanda- tanda syok.


D.    Pencegahan
1.       Melakukan secara rutin managemen aktif  kala III pada semua wanita yang bersalin, karena hal ini dapat menurunkan insiden perdarahan post partum akibat atonia uteri.
2.      Pemberian misoprostol per oral 2- 3 tablet (400- 600µg) segera setelah bayi lahir.
3.      Pemberian oksitosin.
Kegunaan utama oksitosin sebagai pencegahan atonia uteri yaitu onsetnya yang cepat, dan tidak menyebabkan kenaikan tekanan darah atau kontraksi tetani seperti ergometrin. Pemberian oksitosin paling bermanfaat untuk mencegah atonia uteri. Pada manajemen kala III harus dilakukan pemberian oksitosin setelah bayi lahir. Aktif protokol yaitu pemberian 10 unit IM, 5 unit IV bonus atau 10-20 unit per liter IV drip 100-150 cc/jam.


E.     Diagnosa
Diagnosis di tegakan bila setelah bayi dan plasenta lahir ternyata perdarahan masih aktif dan banyak, bergumpal dan pada palpasi di dapatkan fundus uteri masih setinggi pusat atau lebih dengan kontraksi yang lembek. Perlu diperhatikan bahwa pada saat atonia uteri di diagnosis, maka pada saat itu juga masih ada darah sebanyak 500-1000 cc yang sudah keluar dari pembuluh darah, tetapi masih terperangkap dalam uterus dan harus diperhitungkan dalam kalkulasi pemberian darah pengganti.

F.     Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium periksa darah yaitu Hb, COT (Clot Observation Test), dll.

G.    Penatalaksanaan
Banyaknya darah yang hilang akan mempengaruhi keadaan umum pasien. Pasien masih bisa dalam keadaan sadar, sedikit anemis, atau sampai syok berat hipovolemik. Tindakan pertama yang harus dilakukan tergantung pada keadaan klinisnya.
1.      Sikap trendelenburg, memasang venous line.
2.       Resusitasi
Apabila terjadi perdarahan pospartum banyak, maka penanganan awal yaitu resusitasi dengan oksigenasi dan pemberian cairan cepat, monitoring tanda-tanda vital, monitoring jumlah urin, dan monitoring saturasi oksigen. Pemeriksaan golongan darah dan crossmatch perlu dilakukan untuk persiapan transfusi darah.
3.      Merangsang kontraksi dengan cara:
a.       Massase fundus uteri dan merangsang puting susu.
b.      Pemberian oksitosin dan turunan ergot melalui suntikan secara IM. IV, atau SC.
c.       Memberikan derivat prostaglandin F2α (carboprost tromethamine ) yang kadang memberikan efek samping berupa diare, hipertensi, mual muntah, febris, dan takikardi.
d.      Pemberian misoprostol 800-1000µg per rektal.
e.       Kompresi bimanual eksterna
Menekan uterus melalui dinding abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua telapak tangan yang melingkupi uterus. Atau aliran darah yang keluar. Bila perdarahan berkurang, kompresi di teruskan pertahankan hingga uterus dapat kembali berkontraksi atau di bawah ke fasilitas kesehatan rujukan.
-          Kompresi bimanual interna
Uterus di tekan diantara telapak tangan pada dinding abdomen dan tinju tangan dalam vagina untuk menjepit pembuluh darah di dalam miometrium (sebagai pengganti mekanisme kontraksi). Jika perdarahan berkurang tunggu uterus berkontraksi kembali apabila perdarahan tetap terjadi, coba kompresi aorta abdominalis.
-          Kompresi aorta abdominalis
Raba arteri femoralis dengan ujung jari kiri, pertahankan posisi tersebut. Genggam tangan kanan kemudian tekankan pada daerah umbilikus, tegak lurus dengan sumbu badan hingga mencapai kolumna vertebralis. Penekanan yang tepat, akan menghentikan atau sangat mengurangi denyut arteri vemoralis.  
Lihat hasil kompresi dengan memperhatikan perdarahan yang terjadi.
f.        Lanjutkan infuse ringer laktat + 20 unit oksitosin dalam 500 ml larutan dengan laju 500 ml/jam hingga tiba di tempat rujukan. Ringer laktat akan membantu memulihkan volume cairan yang hilang selama peredarahan. (APN 2007).
g.      Pemasangan tampon kondom
Kondom dalam kavum uteri di sambung dengan kateter, di fiksasi dengan karet gelang dan di isi cairan infus 200 ml yang akan mengurangi perdarahan dan menghindari tindakan operatif . (tindakan memasang tampon kasa utero vaginal tidak dianjurkan dan hanya bersifat temporer sebelum tindakan bedah kerumah sakit rujukan).
h.      Bila semua tindakan itu gagal, maka dipersiapkan untuk di lakukan tindakan operatif  laparotomi dengan pilihan bedah konservatif (mempertahankan uterus) atau melakukan histerektomi. Alternatifnya berupa :
1)      Ligasi arteria uterina atau arteria ovarika
Identifikasi bifurkasiol arteri iliaka, tempat ureter menyilang, untuk melakukannya harus dilakukan insisi 5-8 cm pada peritoneum lateral paralel dengan garis ureter. Setelah peritoneum dibuka, ureter ditarik ke medial kemudian dilakukan ligasi arteri 2,5 cm distal bifurkasio iliaka interna dan eksterna. Klem dilewatkan dibelakang arteri, dan dengan menggunakan benang non absobable dilakukan dua ligasi bebas berjarak 1,5-2 cm. Hindari trauma pada vena iliaka interna. Identifikasi denyut arteri iliaka eksterna dan femoralis harus dilakukan sebelum dan sesudah ligasi.
Risiko ligasi arteri iliaka adalah trauma vena iliaka yang dapat menyebabkan perdarahan. Dalam melakukan tindakan ini dokter harus mempertimbangkan waktu dan kondisi pasien
2)      Operasi ransel B lynch
Teknik B-Lynch dikenal juga dengan “brace suture”, ditemukan oleh Christopher B Lynch 1997, sebagai tindakan operatif alternative untuk mengatasi perdarahan pospartum akibat atonia uteri.
3)      Histerektomi
Histerektomi adalah bedah pengangkatan rahim (uterus) yang sangat umum dilakukan. Ada beberapa tingkatan histerektomi, yaitu:
a)      Histerektomi total: pengangkatan rahim dan serviks, tanpa ovarium dan tuba falopi
b)      Histerektomi subtotal: pengangkatan rahim saja, serviks, ovarium dan tuba falopi tetap dibiarkan.
c)      Histerektomi total dan salpingo-oporektomi bilateral: pengangkatan rahim, serviks, ovarium dan tuba falopi.