ASKARIASIS
Askariasis
adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing gelang Ascaris
lumbricoides, yang merupakan penyakit kedua terbesar yang disebabkan oleh
makhluk parasit.
-
Etimologi →
Ascaris lumbricoides
merupakan cacing bulat besar yang biasanya bersarang dalam usus halus. Adanya
cacing didalam usus penderita akan mengadakan gangguan keseimbangan fisiologi
yang normal dalam usus, mengadakan iritasi setempat sehingga mengganggu gerakan
peristaltik dan
penyerapan makanan. Cacing
ini merupakan parasit yang kosmopolit yaitu tersebar diseluruh dunia, lebih
banyak di temukan di daerah beriklim panas dan lembab. Di beberapa daerah
tropik
derajat infeksi dapat
mencapai 100% dari penduduk. Pada umumnya lebih banyak ditemukan pada anak-anak
berusia 5 – 10 tahun sebagai host (penjamu) yang juga menunjukkan beban cacing
yang lebih tinggi (Haryanti, E, 1993).
Cacing dapat
mempertahankan posisinya didalam usus halus karena aktivitas otot-otot ini.
Jika otot-otot somatik di lumpuhkan dengan obat-obat antihelmentik,
cacing akan dikeluarkan dengan pergerakan peristaltik normal. Tantular, K
(1980) yang dikutip oleh Moersintowarti. (1992) mengemukakan bahwa 20 ekor
cacing Ascaris lumbricoides dewasa didalam usus manusia mampu mengkonsumsi hidrat
arang sebanyak 2,8 gram dan 0,7 gram protein setiap hari. Dari hal tersebut
dapat diperkirakan besarnya kerugian yang disebabkan oleh infestasi cacing
dalam jumlah yang cukup banyak sehingga menimbulkan keadaan kurang gizi
(malnutrisi).
-
Cara
infeksi
→
Telur
ascariasis yang lebih dibuahi termakan bersamaan makanan yang telah
terkontaminasi → masuk
dalam duedenum → kemudian larva keluar
menembus dinding duodenum → masuk ke dalam
pembuluh kapiler darah dan bergerak kejantung → alveolus paru – paru →
bronkus → faring → kemudian tertelan lagi masuk dalam
salauran pencernaan → menetap dalam usus
(tempat cacing menjadi dewasa).
Siklus
askariasis 60 – 75 hari.
Usus manusia -> Cacing -> Telur
Cacing -> Keluar bersama feses ->
Tersebar -> Menempel pada makanan -> Termakan -> Menetas -> Larva
-> Menembus Usus -> Aliran Darah -> Jantung -> Paru-Paru ->
Kerongkongan -> Tertelan -> Usus Manusia -> Cacing Dewasa
-
Gejala
klinis →
Bergantung
pada banyaknya cacing dalam tubuh.
Gejala
klinisnya : nyeri perut (berupa kolik didaerah
pusat atau epigastrium)
perut
buncit
rasa mual
dan kadang – kadang muntah
Anoreksia
Susah tidur dan diare
Ascaris dapat menetap dalam
duktus koppdokus dan bial menyumbat saluran tersebut dapat terjadi ikterus
obstruktif. Cacing dapat juga menyebabkan iritasi dan infeksi sekunder hati,
jika terdapat dalam jumlah banyak dalam kolon maka dapat merangsang dan
menyebabkan diare yang berat sehingga dapat timbul apendisitis akut.
-
Spoilative
action
Anak
yang menderita asakariasis umumnya dalam keadaan distrafi. Askariasis hanya
mengambil sedikit karbohidrat sedangkan protein dan lemak tidak.
Kesimpulan
→ Bahwa distrovi pada penderita askariasis disebabkan oleh diare dan
anoreksia.
-
Alergi
Disebabkan
oleh larva yang masuk dalam darah sehingga timbul alergi. Pada siklus
berikutnya timbul manifestasi alergi berupa :
asam bronkiale, Urtikaria, Hipereosinofilia, dan Sindrom loffler
-
Traumatic
action
Ascaris
dapat menyebabkan abses di dinding usus. Perforasi dan kemudian peritonitis.
Yang lebih sering cacing – cacing askaris berkumpul dalam usus menyebabkan
obstruksi usus.
-
Erratic
action
Ascaris
dapat berada dalam lambung sehingga menimbulkan gejala mual, muntah, nyeri
perut terutama di daerah epigastrium, kolik. Gejala hilang bila cacing dapat
keluar bersama muntah.
Þ Komplikasi lain
Dalam
siklusnya larva dapat masuk keotak sehingga timbul abses-abses kecil, ke ginjal
menyebabkan nefritis, ke hati menyebabkan abses-abses kecil dan hepatitis.
2). Diagonosis
Ditegaskan
dengan
a.
Menemukan telur
ascaris lumbriruides dalam tinja
b.
Cacing ascaris
keluar bersama muntah atau tinja penderita
3). Pengobatan
Ø Obat pilihan :
Piperazin sitrat (Antepar) 150 mg / kg bb / hari
Ø Dosis tunggal
dengan dosis maksimum 3 g / hari
Ø Heksil resorsinol dengan dosis 100 mg / tahun (umur)
Ø Oleum kenopodii dengan dosis 1 tetes / tahun (umur)
Santonin :
Tidak
membinasakan ascaris tetapi hanya melemahkan. Biasanya dicampur dengan kolomel
(HgCl ; laksans ringan) dalam jumlah yang sama diberikan selama 3 hari
berturut-turut
0 – 1 tahun :
3 x 5 mg
Dosis → 1 -3 tahun : 3 x 10 mg
3
– 5 tahun : 3 x 15 mg
Lebih
dari 5 tahun : 3 x 20 mg
Dewasa : 3 x 25 mg
Pirantel
pamoat (combantrin)
Dengan dosis 10 mg / kg bb / hari
dosis tunggal
Papin yaitu
fermen dari batang pepaya yang kejanya menghancurkan cacing
Preparatnya
: Fellardun
Pragnosis : baik, terutama jika tidak
tedapat komplikasi dan cepat diberikan
pengobatan.
TRIKURIASIS (TRIKOSEFALIASIS)
·
Etiologi → trithuris trithiura
·
Epidemiologi →
Terdapat di seluruh
dunia. Frekuensi infeksi cacing ini di Jakarta dan sekitarnya cukup tinggi.
·
Patogenesis →
Trithuris trichiura
biasanya dianggap cacing non patogen dan komensal terdapat dalam usus. Jika
jumlahnya banyak dan daya tahan penderita kurang baik, maka tidak jarang
menyebabkan kelainan tertentu. Bagian posterior cacing melekat pada mukosa usus
dan akan mengakibatkan pendarahan kronis serta kerusakan mukosa usus.
·
Cara infeksi →
Menelan telur yang
telah dibuahi kemudian larvanya melekat pada vilus usus halus sampai menjadi
dewasa kemudian ke sekum dan kolon bagian prosimal.
·
Gejala klinis →
Infeksi
ringan cacing ini tidak menimbulkan gejala klinis yang jelas. Pada infeksi yang
berat terdapat keluhan nyeri di daerah abdomen atau epigastrium yang dapat di
sertai muntah-muntah, perut kembung dan ileus. Diare dengan tinja yang
bergaris-garis merah darah, berat badan yang berkurang.
Dapatterjadi
pula prolapsus tektum dengan cacing yang melekat pada selaput lendir usus.
Anemia
yang disebabkan oleh pendarahan kronis. Penderita akan kehilangan darah
kira-kira 0,25 ml setiap telur trithusis trithiura yang terdapat dalam 1 gram
tinja.
Eossnofilia
terdapat pada infeksi yang baru, sedangkan pada infeksi yang sudah lama kadang-kadang
eosinofil darah-darah dalam batas normal.
·
Diagnosis
Dapat dibuat dengan menemukan telur dan atau trithuris trithiurs tinja, baik pada sediaan langsung
maupun pada konsentrasi menurut stoil.
·
Pengobatan
a. Ditiazanen iodida ( delvex, telmid, delumbrin,
netorya)
Denga dosis 10
mg / kg bb / hari
Pada hari
pertama selajutnya 20 mg / kg bb / hati selama 3-15 hari. Juga diberi drtazanin
enema.
b. Triklormenolpiperazani
c. Stilbzaum lodida (monopar)
d. Obat piliah :
Tiobendasol
(mintesol) dengan dosis 25-30 mg / kgbb / hari selama 7-30 hari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar