Sabtu, 02 April 2016

askariasis



ASKARIASIS
Askariasis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing gelang Ascaris lumbricoides, yang merupakan penyakit kedua terbesar yang disebabkan oleh makhluk parasit.
-        Etimologi →
Ascaris lumbricoides merupakan cacing bulat besar yang biasanya bersarang dalam usus halus. Adanya cacing didalam usus penderita akan mengadakan gangguan keseimbangan fisiologi yang normal dalam usus, mengadakan iritasi setempat sehingga mengganggu gerakan peristaltik dan
penyerapan makanan. Cacing ini merupakan parasit yang kosmopolit yaitu tersebar diseluruh dunia, lebih banyak di temukan di daerah beriklim panas dan lembab. Di beberapa daerah tropik
derajat infeksi dapat mencapai 100% dari penduduk. Pada umumnya lebih banyak ditemukan pada anak-anak berusia 5 – 10 tahun sebagai host (penjamu) yang juga menunjukkan beban cacing yang lebih tinggi (Haryanti, E, 1993).
Cacing dapat mempertahankan posisinya didalam usus halus karena aktivitas otot-otot ini. Jika otot-otot somatik di lumpuhkan dengan obat-obat antihelmentik, cacing akan dikeluarkan dengan pergerakan peristaltik normal. Tantular, K (1980) yang dikutip oleh Moersintowarti. (1992) mengemukakan bahwa 20 ekor cacing Ascaris lumbricoides dewasa didalam usus manusia mampu mengkonsumsi hidrat arang sebanyak 2,8 gram dan 0,7 gram protein setiap hari. Dari hal tersebut dapat diperkirakan besarnya kerugian yang disebabkan oleh infestasi cacing dalam jumlah yang cukup banyak sehingga menimbulkan keadaan kurang gizi (malnutrisi).
-        Cara infeksi →
Telur ascariasis yang lebih dibuahi termakan bersamaan makanan yang telah terkontaminasi → masuk dalam  duedenum → kemudian larva keluar menembus dinding duodenum → masuk ke dalam pembuluh kapiler darah dan bergerak kejantung → alveolus paru – paru → bronkus → faring → kemudian tertelan lagi masuk dalam salauran pencernaan → menetap dalam usus (tempat cacing menjadi dewasa).
Siklus askariasis 60 – 75 hari.
Usus manusia -> Cacing -> Telur Cacing -> Keluar bersama feses -> Tersebar -> Menempel pada makanan -> Termakan -> Menetas -> Larva -> Menembus Usus -> Aliran Darah -> Jantung -> Paru-Paru -> Kerongkongan -> Tertelan -> Usus Manusia -> Cacing Dewasa
-        Gejala klinis →
Bergantung pada banyaknya cacing dalam tubuh.
Gejala klinisnya            : nyeri perut (berupa kolik didaerah pusat atau epigastrium)
perut buncit
rasa mual dan kadang – kadang muntah
Anoreksia
Susah tidur dan diare
Ascaris dapat menetap dalam duktus koppdokus dan bial menyumbat saluran tersebut dapat terjadi ikterus obstruktif. Cacing dapat juga menyebabkan iritasi dan infeksi sekunder hati, jika terdapat dalam jumlah banyak dalam kolon maka dapat merangsang dan menyebabkan diare yang berat sehingga dapat timbul apendisitis akut.
-        Spoilative action
Anak yang menderita asakariasis umumnya dalam keadaan distrafi. Askariasis hanya mengambil sedikit karbohidrat sedangkan protein dan lemak tidak.
Kesimpulan → Bahwa distrovi pada penderita askariasis disebabkan oleh diare dan anoreksia.
-        Alergi
Disebabkan oleh larva yang masuk dalam darah sehingga timbul alergi. Pada siklus berikutnya timbul manifestasi alergi berupa         : asam bronkiale, Urtikaria, Hipereosinofilia, dan Sindrom loffler
-        Traumatic action
Ascaris dapat menyebabkan abses di dinding usus. Perforasi dan kemudian peritonitis. Yang lebih sering cacing – cacing askaris berkumpul dalam usus menyebabkan obstruksi usus.
-        Erratic action
Ascaris dapat berada dalam lambung sehingga menimbulkan gejala mual, muntah, nyeri perut terutama di daerah epigastrium, kolik. Gejala hilang bila cacing dapat keluar bersama muntah.
Þ    Komplikasi lain
Dalam siklusnya larva dapat masuk keotak sehingga timbul abses-abses kecil, ke ginjal menyebabkan nefritis, ke hati menyebabkan abses-abses kecil dan hepatitis.
2).    Diagonosis
Ditegaskan dengan
a.       Menemukan telur ascaris lumbriruides dalam tinja
b.      Cacing ascaris keluar bersama muntah atau tinja penderita
3).    Pengobatan
Ø  Obat pilihan          :
Piperazin sitrat (Antepar) 150 mg / kg bb / hari
Ø  Dosis  tunggal dengan dosis maksimum 3 g / hari
Ø  Heksil resorsinol dengan dosis 100 mg / tahun (umur)
Ø  Oleum kenopodii dengan dosis 1 tetes / tahun (umur)
Santonin         :
Tidak membinasakan ascaris tetapi hanya melemahkan. Biasanya dicampur dengan kolomel (HgCl ; laksans ringan) dalam jumlah yang sama diberikan selama 3 hari berturut-turut
0 – 1 tahun               : 3 x 5 mg
Dosis    →     1 -3 tahun                 : 3 x 10 mg
                     3 – 5 tahun               : 3 x 15 mg
                     Lebih dari 5 tahun    : 3 x 20 mg
                     Dewasa                    : 3 x 25 mg
Pirantel pamoat (combantrin)
            Dengan dosis 10 mg / kg bb / hari dosis tunggal
Papin yaitu fermen dari batang pepaya yang kejanya menghancurkan cacing
Preparatnya : Fellardun
Pragnosis                  : baik, terutama jika tidak tedapat komplikasi dan cepat diberikan pengobatan.

TRIKURIASIS (TRIKOSEFALIASIS)
·         Etiologi → trithuris trithiura
·         Epidemiologi →
Terdapat di seluruh dunia. Frekuensi infeksi cacing ini di Jakarta dan sekitarnya cukup tinggi.
·         Patogenesis →
Trithuris trichiura biasanya dianggap cacing non patogen dan komensal terdapat dalam usus. Jika jumlahnya banyak dan daya tahan penderita kurang baik, maka tidak jarang menyebabkan kelainan tertentu. Bagian posterior cacing melekat pada mukosa usus dan akan mengakibatkan pendarahan kronis serta kerusakan mukosa usus.
·         Cara infeksi →
Menelan telur yang telah dibuahi kemudian larvanya melekat pada vilus usus halus sampai menjadi dewasa kemudian ke sekum dan kolon bagian prosimal.
·         Gejala klinis →
Infeksi ringan cacing ini tidak menimbulkan gejala klinis yang jelas. Pada infeksi yang berat terdapat keluhan nyeri di daerah abdomen atau epigastrium yang dapat di sertai muntah-muntah, perut kembung dan ileus. Diare dengan tinja yang bergaris-garis merah darah, berat badan yang berkurang.
Dapatterjadi pula prolapsus tektum dengan cacing yang melekat pada selaput lendir usus.
Anemia yang disebabkan oleh pendarahan kronis. Penderita akan kehilangan darah kira-kira 0,25 ml setiap telur trithusis trithiura yang terdapat dalam 1 gram tinja.
Eossnofilia terdapat pada infeksi yang baru, sedangkan pada infeksi yang sudah lama kadang-kadang eosinofil darah-darah dalam batas normal.
·         Diagnosis
Dapat dibuat dengan menemukan telur dan atau trithuris trithiurs tinja, baik pada sediaan langsung maupun pada konsentrasi menurut stoil.
·         Pengobatan
a.       Ditiazanen iodida ( delvex, telmid, delumbrin, netorya)
Denga dosis 10 mg / kg bb / hari
Pada hari pertama selajutnya 20 mg / kg bb / hati selama 3-15 hari. Juga diberi drtazanin enema.
b.      Triklormenolpiperazani
c.       Stilbzaum lodida (monopar)
d.      Obat piliah :
Tiobendasol (mintesol) dengan dosis 25-30 mg / kgbb / hari selama 7-30 hari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar